Kamis, 9 Juli 2015
Sebuah pemikiran yang
terlintas malam ini saat saya berada di rumah Ibu yang terletak di bilangan
Cempaka Putih. Kembali ke asal untuk beristirahat sembari menikmati secangkir
teh panas dan pisang goreng sebagai menu syarat berbuka puasa.
Kadang saya heran,
mengapa kita, bangsa Indonesia harus terus menerus dibebani dengan pergulatan
yang sangat menyita waktu, saat kita harus bepergian, entah untuk keperluan
bisnis, ataupun sekedar mengintip indah dan buruknya negara lain.
Pengajuan visa.
Salah satu tantangan bagi orang Indonesia yang ingin melakukan perjalanan adalah pengajuan visa. Terutama ke negara-negara "maju". Mulai dari penyisihan waktu di sela kesibukan sehari-hari demi mendapatkan nomor giliran, pengambilan foto dan sidik jari sampai wawancara dengan petugas di loket. Saya tidak bilang mereka tidak ramah, namun bahasa raga mereka cukup membuat kerut berkerinyit ataupun membuat dada ini berdebar karena takut pengajuan kita ditolak karena salah jawab.
Apa mau dikata, mungkin belum waktunya kita menjadi Travellers Without Borders, Pelaku perjalanan Tanpa Batas. Batasannya adalah : Ijin Masuk dalam bentuk Visa. Kulonuwun secara tertulis
Saya berpatokan pada
satu hal. Kita tidak akan mampu menghargai negara kita sendiri kalau kita
berkutat di situ-situ saja, alias tidak pernah membandingkannya dengan negara
lain. Karena itu, sejak kecil saya sering memimpikan perjalanan jauh. Dan
terbukti, setelah sekian lama mampir di kota-kota dan desa-desa lain di
Indonesia, lalu meningkat setelah ada rejeki (Alhamdulillah) ke negara-negara
besar ataupun kecil, indah atau jelek, saya terhantam kembali ke pangkuan ibu
pertiwi.
Tak ada yang seenak di rumah sendiri, dan
ada enaknya juga saat tak berada di rumah sendiri.
Perlukah kita bepergian? Ya. Sangat perlu.
Mulailah dari langkah kecil. Keluar dari rumah, jalan-jalan di sekitar kampung,
lalu ke kampung lain, lalu buat rencana mengunjungi kota,kabupaten dan
propinsi lain. Sedikit demi sedikit akan terbangun suatu keingintahuan,
bagaimana sih, gaya hidup dan pemandangan di daerah lain selain yang ada di
sekitar rumah. Lalu meningkat ke pulau lain, dan akhirnya ke negara lain.
Lalu ibaratkan rumah kita ini, adalah
negara kita. Banggakah kita? Tentu bangga. Tapi bagaimana bisa bangga kalau
yang dilihat hanya rumah kita saja? Itu namanya sok tahu. Rumah lain bisa jadi
lebih bagus, lebih cantik, lebih buruk, lebih berantakan dan lain
sebagainya.
Dulu saya heran mengapa orang-orang sangat
bangga dengan ke-Indonesiaan-nya sementara saya tahu bahwa sebagian dari mereka
belum pernah ke luar negeri. Apa-apa selalu bilang,"Di
Indonesia...bla..bla..bla..." Kebanggaan menurut saya, harus disertai
dengan perbandingan. Bandingkan, lalu rasakan perbedaannya. Barulah kita mampu
menghargai apa yang kita miliki. Atau mungkin, kita akhirnya melepaskan apa
yang kita miliki semata-mata karena rumput di sana lebih indah dan lebih
menjanjikan. Tak ada salahnya. Dua-duanya sah.
Ini hanya pendapat asal-asalan, yang
muncul dari benak saya yang belum lama ini agak "terganggu".
Katakanlah demikian. Mungkin karena saya terlalu memikirkan yang tidak-tidak.
Sampai akhirnya memikirkan soal ini.
Jika saja suatu saat nanti, batasan negara
dihapuskan, mungkin tidak ada lagi yang namanya Visa, tidak ada lagi yang
namanya paspor. Yang ada hanya semacam bukti tempat tinggal yang bisa kita
kantungi ke mana-mana. Maka jadilah kita semua Les Citoyens du Monde, Citizens of the World, Warganegara Dunia.
Bak Netizen yang bebas
bergerak di dunia maya, namun kakinya benar-benar menapak di bumi. Raga tak akan tergantikan. Senikmat apapun meminjam raga orang lain untuk bepergian, tak akan senikmat raga kita sendiri saat menikmati pengalaman yang ada di depan mata kepala kita sendiri,
Bukan dengan meminjam mata kepala orang lain.
Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar