Cempaka Putih, Jumat, 10 Juli 2015
Lebih enak kaya pengalaman atau kaya harta? Dua-duanya sama-sama
enak. Mana bisa dapat pengalaman kalau tidak punya uang. Realistis saja. Karena itulah saya tidak
pernah menanggapi serius kalimat-kalimat bersahaja yang dikarang orang lalu
disebarluaskan di media sosial. UUD, alias ujung-ujungnya duit. Meninggal saja
perlu uang untuk penguburan.
Bicara soal pengalaman, maskot pengalaman
yang paling berharga dalam hidup saya adalah saat melakukan perjalanan. Baik
itu sekedar pergi ke pasar dekat rumah atau ke negara antah berantah yang
dicapai dengan 45 jam dengan pesawat udara. Berkat kecanggihan teknologi.
Apa yang bisa dibeli dari pengalaman? Kisah. Sejarah. Ode. Syair. Prosa. Puisi. Apapun yang
terlintas di benak kita saat kita ingin mengungkapkan pengalaman kita. Baik itu
buruk ataupun indah. Tak perlu membuat karya kita setara dengan Gurindam Dua
Belas. Cukup dengan bercerita. Mendongeng. Atau bahkan menuliskan
pengalaman ke dalam bentuk tulisan akademis. Itu semua metode penceritaan pengalaman.
Dulu buat saya, ke pasar
tradisional setiap hari Minggu dengan Ibunda cukup membuat saya kegirangan. Melangkah keluar rumah lalu naik becak
dan berbecek-becek di pasar yang panas dan pengap cukup membuat saya bersuka
selama satu jam. Belum lagi memperhatikan tukang ayam memotong dagangannya,
hingga saya berpikir, apa dia tidak bosan setiap hari kerjaannya memotong ayam
saja.
Setelah itu, mulailah budaya Mal. Mal pertama yang saya kunjungi adalah
Pasar Senen. Itu Mal tercanggih di masa akhir tahun 70-an. Lalu mal termewah
yang pertama saya jejakkan adalah Isetan, ehm…di Singapura. Usia 5 tahun, dan
saya terpesona dengan pesawat ulang-alik alias lift yang kacanya menghadap ke
jalan. Sekarang tersohor dengan nama Orchard Road.
Jika masa kanak-kanak Anda berada di tahun 80-90-an, maka Anda pasti sering
menjenguk Bobo Dunia Anak-Anak di Pasar Senen, atau Hoya di Jalan Gunung Sahari.
Pengalaman yang berharga yang tidak terlupakan saat kita menua. Lalu berharap,
seandainya masih ada. Ya
tidak mungkin. Semua berubah. Kesenangan dan demand juga berubah. Paling tinggal senyum-senyum mengenang masa
lalu.
Saya paling risi mendengar orang-orang berbicara,“Dulu waktu
saya..bla..bla..bla.“ Maaf Meneer, Mevrow, sebaiknya dilihat saja yang ada
sekarang. Saya juga tidak terlalu suka yang namanya media sosial dunia maya. Tapi
akhirnya memang tergilas sendiri sekarang. Padahal menurut saya media sosial
dunia maya dan internet lebih banyak bahayanya daripada keamanannya.
Jadi apakah pengalaman akan dibantu oleh mesin? Saya rasa tidak bisa dan
tidak boleh. Nanti lama-lama akan ada yang namanya Hak Asasi Manusia Surrogate, alias manusia pengganti
manusia. Lama-lama kloning manusia bisa terjadi, lalu akan ada perdebatan di
DPR, tidakkah kloningan itu perlu juga diberikan hak dan tanggung jawab.
Mengerikan. Pengalaman menciptakan monster. Dan nantinya manusia juga yang
tergilas oleh monster bikinan kita sendiri berkat pengalaman. Semoga
Frankenstein hanya ada di buku. Sekian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar