Senin, 13 Juli 2015

Mojopahit dan Sriwijaya

Cempaka Putih, Senin, 13 Juli 2015

Iseng-iseng saya membuka youtube (bukan iklan) dan mendengarkan lagu Semagat Mojopahit Sriwijaya. Salah satu lirik yang memukau sanubari saya adalah Sudah Lama Tidurmu, Tinggi Sudah Surya.

Banyak orang berkata jika kita tidak bangun pagi maka rejeki akan lari. Kalau bangun siang, rejeki dipatok ayam. Macam-macamlah berbagai ungkapan soal hubungan antara bangun kesiangan dan hilangnya kesempatan. Lirik tersebut memukau saya. Seperti mencolek bahu Indonesia dan berkata, "Siang, sudah kelamaan tidurnya, matahari sudah tinggi."

Mojopahit dan Sriwijaya sudah lama tertidur. Apakah Indonesia akan enak-enakan terus terbuai dalam tidur dan tidak peduli bahwa sang surya sudah tinggi dan bahkan sudah terbenam dan bahkan sudah terbit lagi dan terbenam lagi. Di bulan puasa ini, saya adalah orang yang tidak patut ditiru. Selepas sahur dan sholat Subuh, saya langsung pulas hingga hampir tengah hari. Maklum pengangguran. Saya malu pada Mojopahit dan Sriwijaya. Wong saya belum pernah mengalami zaman keemasan kok sudah enak-enak bangun siang.

Dalam konteks Indonesia, ada banyak yang saya pikirkan sehubungan dengan lirik lagu tersebut. Apakah kejayaan kita sudah sedemikian lama tertidur? Apakah generasi sekarang sudah lebih malas daripada generasi sebelumnya? Siapakah "generasi sekarang" itu? Mereka yang begitu lahir langsung punya akun Facebook? Atau generasi manapun mulai dari penikmat Roxette di Prambors Top 40 atau yang hidup di zaman Warkop masih kuliah hingga penikmat Taylor Swift di Hard Rock FM, yang mau tidak mau, suka atau tidak suka terseret arus era Media Baru? 

Cobalah dengarkan lagu tersebut. Liriknya sederhana tapi bermakna. Saya sebutkan bahwa liriknya itu sangat "rela". Melepaskan semua keluh kesah lalu mengajak bangkit untuk unjuk gigi pada dunia. Sudahkah kita bangun dari tidur? Kalau semua insan Indonesia seperti saya, bangun siang, ya pastinya semua kesempatan sudah diambil insan negara lain. 

Saya bukan politisi, bukan penyair, bukan pula pemerhati budaya, hanya sedikit punya pikiran mencla-mencle karena kagum dengan lagu Semangat Mojopahit Sriwijaya. Saya tebak, pencipta dan penggubahnya mungkin adalah Prof. Dr. Nugroho Notosusanto. Mohon dikoreksi jika saya salah.

Terbayang garangnya Ratu Tribhuwana Tunggadewi, perempuan ksatria di abad ke-14, lalu pewaris tahta berikutnya yang tak asing lagi di telinga kita yaitu Hayam Wuruk dan terjadinya Sumpah Palapa oleh Patih Gadjah Mada. Jika saya tidak salah (berusaha tidak melirik Wikipedia), pelajaran Sejarah di SMP mengatakan begini, Gadjah Mada bersumpah tidak akan memakan buah Palapa sebelum Nusantara berada di bawah kerajaan Mojopahit. Buah Palapa konon termasuk makanan mewah di jaman tersebut. Saya tidak tahu harus membandingkannya dengan buah apa di jaman sekarang. 

Sekarang, mampukah Indonesia kembali berada di zaman keemasan Mojopahit dan Sriwijaya kembali? Apalagi di zaman Media Baru ini, apakah seharusnya, kesempatan itu lebih terbuka bagi negara kita? ASEAN Economic Community (AEC) sudah bukan di ambang mata lagi. Kita sudah menginjak di tahun AEC, yaitu 2015. Bisakah Indonesia berjaya kembali paling tidak di ASEAN? 

Cuma melemparkan diskusi saja, Itu juga jika pembaca tertarik. Saya belajar bahwa di dunia maya, apapun bisa diungkapkan, dan siapa saja boleh menanggapi.

Jawabannya mungkin ada di lirik terakhir:

Kobarkanlah semangat luhurmu kembali, kembangkanlah sayapmu meninggi
Sumbangkanlah tenaga kepada dunia, tanda kamu Indonesia.

Tanpa kata-kata apapun, terjemahkanlah makna dari lirik terakhir. Kalau bisa, coba bangun dari kursi dan dari himpitan internet,lalu lari pagi, menyapa manusia secara fisik lengkap. Rasakan bedanya. Tanda kamu manusia biasa tapi bertenaga dan beridentitas diri sebagai bangsa Indonesia. Citizen yang juga Netizen.

Saya lebih suka Citizen. Tapi tidak anti Netizen. 

*kembali ke Youtube.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar